Balapan belum dimulai, Sean Gelael sudah dapat penalti atau “handicap”. Ini dialami pebalap professional itu saat mengikuti kejuaraan GTWCA 2026 yang berlangsung di Sirkuit Internasional Mandalika, 2-3 Mei 2026.
Istilah “handicap” lebih tepat, karena dilakukan sebelum berlomba sedangkan penalti biasanya dikenakan setelah bertanding.
“Handicap“ adalah sistem pemberian keunggulan atau kerugian (poin / gol / skor) maya kepada peserta dalam olahraga untuk menyamakan peluang menang, sehingga pertandingan antara pihak yang tidak seimbang menjadi lebih adil dan menarik.
Jadi, penalti dan handicap merupakan dua konsep sangat berbeda, meskipun keduanya berkaitan dengan skor atau aturan permainan.
Penalti adalah hukuman atas pelanggaran aturan, sedangkan handicap adalah penyesuaian untuk menciptakan keseimbangan permainan
Nah, hal seperti ini yang dialami Sean Gelael dalam laga di Mandalika, karena ia berlomba sendiri (tidak bergantian nyetir) dan karena ia berlaga di kelas tertentu (silver).
Umumnya tim yang berkompetisi di GT World Challenge Asia (GTWCA) itu terdiri dari dua orang. Di kelas mana pun itu regulasi lomba secara normal mengatur komposisi pebalap yang terdiri dari dua orang.
Lalu, kenapa Sean Gelael boleh balapan sendirian di Mandalika?
Sean boleh balapan sendirian (solo driver) di Mandalika di kelas Silver dengan konsekuensi ada beberapa handicap yang mesti diterimanya. Handicap ini untuk memberikan rasa adil kepada tim-tim yang terdiri dari dua pebalap.
Bagi Sean, debut di ajang GTWCA sekaligus juga laga untuk kali pertama di sirkuit kebanggaan Indonesia yang didesain untuk MotoGP (balap motor) itu.
Sean akan turun di kelas Silver (kelas paling tinggi di GTWCA), solo driver, bersama tim 75 Garage, dengan mobil Ferrari 296 GT3 Evo.
“Kenapa Solo driver? Salah satunya karena susahnya mencari pembalap silver di Asia, sesuai regulasi,” ungkap Ricardo Gelael, ayahanda Sean. Mantan pembalap dan pereli mobil nasional.
Alasan berikutnya, balapan GTWCA hanya berdurasi satu jam. Sementara Sean terbiasa balapan GTWCE dan FIAWEC dari yang 4 jam, 6 jam, 8 jam hingga 24 jam, tapi dengan 2-3 pembalap sebagai rekan setimnya.
Sean dibebani “handicap”
Namun, persoalan tidak sederhana bagi Sean Gelael sebagai pembalap kelas Silver di sirkuit Mandalika. Handicap dan penalti sudah menanti.
Karena tidak turun dari round 1 dan 2 di Sepang, Sean menjadi satu-satunya pembalap yang langsung mendapat penalti 3 detik. Dari entry list pembalap GTWCA Mandalika, sebagian besar pembalap mengikuti seri Sepang.
“Lalu, sebagai Solo Driver, Sean juga mendapat penalti, alasannya untuk memberikan rasa adil kepada tim peserta dengan dua pembalap. Seperti saat di GTWCA Sepang, ada satu solo driver yang tetap harus melakukan pit stop. Sean nanti keluar dari mobil, menutup pintu dan masuk lagi,” jelas Ricardo.
Tahun lalu di GTWCA Mandalika, solo driver mendapat penalti khusus tujuh detik. Maka pada pit stop race 1, Sean akan melakukan pit stop dari waktu minimal 100 detik, ditambah 7 detik dan 3 detik. Jadi totalnya 110 detik!
Tidak hanya itu, Sean akan kembali mendapat penalti di pit stop Race 2. Ada tambahan waktu bagi finisher P1, P2 atau P3. P1 ketambahan 15 detik, P2 10 detik dan P3 5 detik.
Seandainya Sean menang P1 Race 1, dan bilangan penalti tidak berubah, waktu minimal pit stopnya adalah 110 + 15 detik = 125 detik!!.
Nah, Regulasi “Minimum Mandatory Pit Stop Times” alias waktu minimal yang mesti dilakukan pebalap selama melakukan pit stop ini dihitung dari pit entry hingga pit exit.

SRO selaku promotor GTWCA akan menentukan detil besaran penalti untuk diberlakukan di Mandalika, termasuk untuk Sean sebagai solo driver.
“Yang penting dukung terus saya, karena ini momen bersejarah untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia,” kata Sean.
Berat Tantangan Buat Sean
“Dengan handicap penalti seperti itu, lumayan berat bagi Sean. Belum lagi, sebagai sirkuit yang sejak awal dirancang untuk MotoGP (balap motor), spot dan tikungan untuk overtake di Mandalika sangat terbatas,” lanjut Ricardo.

Ricardo memprediksi, pada race 1 selepas start, Sean kemungkinan akan berada di deretan terdepan. Namun setelah pit stop, kemungkinan posisinya akan melorot karena harus menjalankan penalti khusus dimaksud.
Meski begitu, dengan skill, jam terbang serta dukungan signifikan penonton lantaran bermain di home race, kita semua berharap Sean Gelael mampu mengatasi berbagai handicap yang ada serta mengumandangkan ‘Indonesia Raya’ dan mengibarkan bendera Merah Putih di podium juara.
Sean, berbekal dua kali runner-up kejuaraan dunia FIA WEC kelas LMP2, plus 5 x kemenangan, dan yang tak kalah mengesankan meraih double podium di 24H of Le Mans, saat ini juga masih berkompetisi di FIA WEC 2026 serta GT World Challenge Europe.
“Semoga ia mampu mengatasi masalahnya dan para pendukungnya mendoakan hingga ia finis dengan baik,” kata Ricardo.
Selamat berjuang Sean Gelael! (arl)