You are here
Home > BERITA > HUT Ricardo Gelael Ke-58 Oleh A.R. Loebis

HUT Ricardo Gelael Ke-58 Oleh A.R. Loebis


Ricardo Gelael Bersama Keluarga (Rini S. Bono, Sean Gelael)

MEDIABALAP.com (Jakarta) – “You are the motor to my life, the brakes to my problems, the fuel to my passion. Happy birthday”.

Frasa di atas merupakan ungkapan Sean Gelael ketika ayahandanya Ricardo Gelael ulang tahun pada 2016 dan falsafah hidup itu pun pasti tak lekang dimakan waktu hingga 2017 atau entah kapan pun, karena kata-kata itu kalau dibalik merupakan tugas setiap orang tua kepada keturunannya.

“Engkau merupakan penggerak dalam hidup saya, sebagai pemecah masalah saya dan sebagai bahan bakar untuk menggelorakan keinginan saya,” begitu kira-kira dikatakan Sean Gelael kepada ayahnya yang memasuki usia 58 tahun pada 13 Januari 2017.

Ungkapan Sean Gelael itu cukup beralasan, karena Ricardo lah yang membentuk jiwa balap Sean Gelael sampai  berlaga di ajang GP2 Series saat ini, diawal dari tangga paling bawah.

“Saya ingin ia nanti jadi pebalap tangguh,” kata Ricardo, ketika melihat mata Sean yang berbinar-binar saat menyaksikan ia tampil sebagai juara pada Kejurnas reli mobil di Palembang,  7-9 April 2006.

Ketika itu, Ricardo hanya ingin menunjukkan kepada puteranya bahw ia merupakan pereli “beneran” dan niatnya itu menjadi kenyataan.

Ricardo mulai lagi mengikuti laga reli mobil nasional pada 2005 setelah beberapa tahun istirahat. Ini tak lain tak bukan, karena Sean ingin menyaksikan ayahnya melaju di lintasan reli.

“Katanya Papa pereli mobil. Coba tunjukkan pada saya kalau benar-benar pereli,” kata Sean pada 2005 yang ketika itu berusia sembilan tahun, saat Ricardo berada di urutan kedelapan “overall”  dan Rifat Sungkar juara dengan mengumpulkan nilai 66 poin.

Pada 2006 Ricardo yang mengendarai Subaru  Impreza WRX Sti, tampil sebagai juara nasional dan hingga putaran kedua ia sudah mengumpulkan nilai total 40, sedangkan Rizal di urutan ketiga (27) dan di tengah mereka Al dJufri (40).

Ketika itu, Ricardo menyatakan bahwa kemenangannya amat mengejutkan, dan dianggapnya sebagai momentum pemicu bangkitnya kembali reli mobil nasional, baik bagi angkatan muda mau pun yang sudah mulai veteran.

Di antara lawannya ketika itu terdapat Chandra Alim, Tony Hardianto, Boy Harrijanto, Okky Harwanto, Deyu, Tommy Soeharto,  Herry Agung, Rizal dan Rifat Sungkar, Sadikin Aksa, Ijeck dan beberapa lainnya.

Apa kunci kemenangan Ricardo ketika itu?

“Selain kendaraan saya bagus, tentu saja karena faktor keberuntungan,” kata Ricado, tapi dedengkot reli nasional Beng Soeswanto menambahkan, hal terpenting yang dimiliki Ricardo adalah “rasa percaya diri cukup tinggi”

Nah, mata Sean Gelael yang berbinar-binar menyaksikan ayahnya menang dan dikelilingi wartawan di garis finis, mungkin membekas amat dalam pada jiwanya, sehingga ia kini amat keras dan gigih dalam berlaga di lintasan sejak dari jaman laga karting hingga formula GP2 saat ini.

Tampilnya Ricardo sebagai pemenang di atas mobilnya yang berwarna biru itu,  membuka pintu hobi Sean Gelael dalam perjalanan hidupnya dan apa yang dikatakan Beng Soeswanto tentang “rasa percaya”  itu amat lekat dengan jiwa Sean, yang “passion” lombanya amat tinggi.

Menanti persembahan lain

Pada ulang tahun Ricardo tahun lalu, Sean Gelael mempersembahkan kado berupa piala kemenangan di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, Thailand, (10/1-2016) pada laga lomba ketahanan mobil Le Mans Asia.

Sean kini sudah malang melintang di kancah balap sejak usia delapan tahun, sampai akhirnya tampil di jenjang laga GP2, yang merupakan tangga akhir untuk masuk ke perlombaan jet darat tertinggi di dunia, Formula Satu (F1).

Pada 2015, ia berlaga di kancah lomba Formula Renault 3.5 serta beberapa putaran GP2. Sebelum konsentrasi penuh di ajang F2 2016, ia mengikuti dua dari empat putaran lomba ketahanan Le Mans Asia dan itu tadi, ia tampil sebagai juara bersama rekan akrabnya Antgonio Giovinazzi dari Italia.

Apa yang menggembirakan bagi orang tua? Bila puteranya berhasil melakukan sesuatu dengan “benar” sesuai dengan apa yang diharapkannya serta apa yang diinginkan si anak.

“Kemenangan perlu bagi seorang atlet, untuk lebih memacu passion dan semangatnya pada perlombaan berikutnya. Saya menilai teknis berlomba Sean semakin meningkat dan ketahanan mentalnya bertambah tinggi,” kata Ricardo.

Sean pun mengakuinya, dengan mengatakan, ”Apa pun jenis balapannya, banyak manfaat yang bisa diambil. Di ajang LMP, saya belajar mengenai manajemen waktu, menjaga konsistensi, serta melatih kondisi fisik agar tetap prima.”

Nah, tahun ini (2017), Sean dilaporkan dapat beradaptasi cepat dengan tim barunya, Arden International, ketika ia melakukan uji coba di atas kendaan GP2 selama tiga hari di Sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi, UEA, beberapa waktu lalu.

Apa target Sean Gelael pada 2017?

“Konsistensi!  Kalau pada 2016 saya kurang konsisten membalap, maka pada 2017 saya mencoba dan berharap dapat lebih konsisten. Saya akan bekerja keras untuk meningkatkan karir saya ke jenjang balap yang lebih tinggi sesuai cita-cita saya,” kata Sean.

“Saya amat antusian dan senang memasuki musim baru pada 2017 bersama tim baru saya,” kata Sean.

Seperti dikatan Beng soeswanto ketika Ricardo menang di kejuaraan reli pada 2006, maka kini pun kelihatan salah satu faktor menuju kemenangan itu menurun pada Sean, yaitu: pemuda pebalap itu memiliki rasa percaya diri amat tinggi”. Ia akan mempersembahkan piala lainnya.

Selamat Ulang Tahun Pak Ricardo, semoga Dewi Fortuna berpihak pada Sean Gelael pada 2017.  (ARL)

Leave a Reply

Top